Pertemuan12 REAKSI REAKSI SPESIFIK PADA PROTEIN
REAKSI REAKSI SPESIFIK PADA PROTEIN
Baiklah
pada pembahasan kali ini saya akan membahas
mengenai reaksi reaksi spesifik pada protein. Yang akan saya mulai
dengan menjelaskan sedikit tentang pengertian asam amino dan protein. Kata
protein berasal dari kata protos yang artinya pertama atau utama. Protein ini
adalah suatu komponen utama sel hewan atau manusia. Oleh karena sel itu
berperan dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh.
Asam amino adalah sembarang senyawa organik yang memiliki gugus fungsion alkarboksil
(-COOH) dan amina
(biasanya -NH2). Dalam biokimia seringkali pengertiannya dipersempit:
keduanya terikat pada satu atom karbon
(C) yang sama (disebut atom C "alfa" atau α).
Gugus karboksil memberikan sifat asam
dan gugus amina memberikan sifat basa.
Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfoterik: cenderung menjadi asam pada
larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena
asam amino mampu menjadi zwitter-ion.
Asam amino termasuk golongan senyawa yang paling banyak dipelajari karena salah
satu fungsinya sangat penting dalam organisme, yaitu sebagai penyusun protein. Dalam
kehidupan protein memegang peranan yang penting pula. Proses kimia dalam tubuh
dapat berlangsung dengan baik karena adanya enzim, suatu protein yang berfungsi
sebagai biokatalis. Di samping itu hemoglobin dalam butir-butir darah merah
atau eritrosit yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke
seluruh bagian tubuh adalah salah satu jenis protein. Demikian pula zat-zat
yang berperan untuk melawan bakteri penyakit atau yang disebut antigen.
Asam
amino sendiri tidak berwarna dan tidak dapat dideteksi secara visual pada
kromatografi atau cara analisis lainnya. Dengan mengubahnya menjadi senyawa
yang berwarna, kita dapat melihatnya. Reaksi warna yang penting dari asam amino
adalah reaksinya dengan ninhidrin karena intensitas warna yang terbentuk pada
reaksi ninhidrin ini sebanding dengan konsentrasi asam aminonya maka reaksi ini
dapat dipakai untuk analisa kuantitatif. Contohnya: reaksi ninhidrin ini dipakai
pada alat analisa otomatik asam amino, suatu alat untuk memisahkan asam amino
dengan memakai kolom penukar ion dan ditentukan konsentrasi relatifnya.
Dari
struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya, yaitu
gugus amino dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar.
Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat
spesifiknya. Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini
akan memberikan reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya. Sebagai
contoh adalah reaksi asetilasi dan esterifikasi. Asam amino juga bersifat amfoter,
yaitu dapat bersifat sebagai asam dan memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat
bersifat sebagai basa dan menerima proton dari basa kuat .
Protein
merupakan polimer yang tersusun dari asam amino
sebagai monomernya. Monomer-monomer ini
tersambung dengan ikatan peptida,
yang mengikat gugus karboksil milik satu monomer dengan gugus amina milik
monomer di sebelahnya. Reaksi penyambungan ini (disebut translasi) secara alami terjadi di sitoplasma dengan bantuan ribosom dan tRNA.
Pada polimerisasi asam amino, gugus -OH yang merupakan bagian gugus karboksil
satu asam amino dan gugus -H yang merupakan bagian gugus amina asam amino
lainnya akan terlepas dan membentuk air. Oleh sebab itu, reaksi ini termasuk
dalam reaksi dehidrasi.
Molekul asam amino yang telah melepaskan molekul air dikatakan disebut dalam
bentuk residu asam amino.
Pada
umumnya asam amino diperoleh sebagai hasil hidrolisis protein, baik menggunakan
enzim maupun dengan menggunakan asam, dengan cara ini diperoleh campuan
bermacam-macam asam amino dan untuk menentukan jenis asam amino maupun
kualitasnya masing-masing asam amino perlu diadakan pemisahan antara asam-asam
amino tersebut. Asam amino sendiri tidak berwarna dan tidak dapat dideteksi
secara visual pada kromatografi atau cara analisis lainnya. Dengan mengubahnya
menjadi senyawa yang berwarna, kita dapat melihatnya. Reaksi warna yang penting
dari asam amino adalah reaksinya dengan ninhydrin karena intensitas warna yang
terbentuk pada reaksi ninhydrin ini sebanding dengan konsentrasi asam aminonya
maka reaksi ini dapat dipakai untuk analisa kuantitatif. Fungsi suatu protein
selain sebagai bahan makanan tergantung sepenuhnya pada strukutur tiga
dimensionalnya. Pada suatu protein dapat ditambahkan beberapa zat yang dapat
merubah struktur sekunder, tersier, dan kuartener dari protein tersaebut.
Sebagai contoh: konsentrasi ion yang tinggi dapat mematahkan ikatan S-S
diantara cystein. Meskipun zat ini tidak berubah untuk memecahkan ikatan
peptida, sehingga struktur primernya tidak berpengaruh, tetapi perlakuan ini
dapat merusak sifat protein yang menyebabkan protein tersebut tidak berfungsi
semestinya. Protein tersebut mengalami proses denaturasi. Sebagai contoh
apabila lisozim di denaturasikan maka protein tersebut tidak dapat lagi merubah
polisakarida seperti biasa. Denaturasi suatu enzim akan bisa membuat enzim itu tidak dapat berfungsi
lagi. Denaturasi antibodi menyebabkan zat-zat tersebut tidak dapat mengenal dan
bereaksi dengan antigen. Jika fungsi protein tergantung pada konfirmasinya,
maka lazim pula dikatakan bahwa konfirmasi protein tergantung pada struktur
primernya. Protein dapat terdenaturasi dan daya cerna protein akan menurun oleh
penambahan larutan asam dan pemanasan suhu tinggi terhadap bahan makanan
terutama bahan makanan yang memiliki kadar protein tinggi misalnya pada ikan.
Ada
empat tingkat struktur dasar protein, yaitu struktur primer, sekunder, tersier, dan kuartener.
1.
Struktur primer
terkait
mengenai terbentuknya rantai-rantai dengan ikatan-ikatan peptida dimana jumlah, macam, dan cara
terkaitnya (urutan) asam-asam amino
mempunyai peranan penting. 2
2.
Struktur sekunder
terkait
mengenai berlilitnya rantai-rantai
polipeptida sampai terbentuknya suatu
struktur spiral karena terjadi ikatan hidrogen.
3.
Struktur tersier,
rantai-rantai
polipeptida yang berlilit itu bergabung satu dengan yang laindengan pertolongan
ikatan yang lemah yakni ikatan hidrogen
dan Van Der Wals sampai terbentuknya lapisan, serat atau biji.
4.
Struktur kuartener,
tidak semua protein mempunyai struktur kuartener, hanya jika protein itu terdisi
atas 2 atau 4 rantai polipeptida yang tergabung oleh gaya bukan ikatan kovalen (bukan ikatan peptide atau
disulfida).
Protein seperti asam amino bebas
memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda. Titik Isoelektrik (TI) adalah daerah
pH tertentu dimana protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan
positif dan negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam
medan listrik. Pada pH isoelektrik (pI), suatu protein sangat mudah diendapkan
karena pada saat itu muatan listriknya nol. Berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki
protein, seperti kemampuan membentuk warna dan mengendap ketika bereaksi dengan
zat lain dapat digunakan untuk mengetahui keberadaanya pada sampel bahan yang
belum diketahui.
Reaksi
reaksi spesifik yang terdapat pada protein adalah sebagai berikut:
a.
Reaksi Sakaguci
Reaksi
sakaguci dilakukan dengan menggunakan pereaksi naftol dan natrium hipobromit.
Pada dasarnya reaksi ini dapat memberi hasil positif apabila ada gugus
guanidin. Jadi arginin atau protein yang mengandung arginin dapat menghasilkan
warna merah.
b.
Reaksi Xantoprotein
Larutan
asam nitrat pekat ditambahkan dengan hati-hati ke dalam larutan protein. Setelah
dicampur terjadi endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning apabila
dipanaskan. Reaksi yang terjadi adalah nitrasi pada inti benzene yang terdapat
pada molekul protein. Jadi reaksi ini positif jika mengandung tirosin, fenil
alanin dan triptofan.
c.
Reaksi Hopkins-Cole
Triptofan
dapat berkondensasi dengan beberapa aldehida dengan bantuan asam kuat dan
membentuk senyawa yang berwarna. Larutan protein yang mengandung triptofan
dapat direasikan dengan pereaksi Hopkins-Cole yang mengandung asam glioksilat.
Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan
perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan di bawah larutan protein. Beberapa
saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan. Reaksi
Hopkins-Cole memberi hasil positif khas untuk gugus indol dalam protein.
d.Reaksi
Biuret
berdasarkan adanya dua atau lebih ikatan peptida dengan reagensia Biuret
memberikan warna lembayung. Berarti semua protein menghasilkan warna lembayung.
PERMASALAHAN.
1.
Fungsi suatu protein selain sebagai
bahan makanan, tergantung sepenuhnya pada strukutur tiga dimensionalnya.
Jelaskan bagaimana struktur tiga dimensional protein tersebut?
2. Mengapa
pada Reaksi Sakaguci jika ditambahkan dengan gugus guanidin bisa memberikan
hasil yang positif? Jelaskan
3. Apa
perbedaan yang spesifik dari reaksi reaksi protein tersebut?
4. Pada
Reaksi Xantoprotein terjadinya reaksi nitrasi, jelaskan tentang reaksi nitrasi
tersebut. Dan mengapa bisa terjadi?



Saya akan mencoba menjawab permasalahan yang ke-3, "Apa perbedaan yang spesifik dari reaksi reaksi protein tersebut". Berdasrkan keempat reaksi spesifik protein itu dapat kita lihat perbedaannya pada mekanisme-mekanisme reaksi tersebut sehingga hasil yang diperoleh pun berbeda pula.
BalasHapussaya akan menjawab permasalahan nomor 1.
BalasHapusSTRUKTUR 3 DIMENSI PROTEIN
Ada 4 struktur protein antara lain struktur primer, sekunder, tersier dan kuartener. Struktur primer adalah rantai polipeptida. Struktur primer protein di tentukan oleh ikatan kovalen antara residu asam amino yang berurutan yang membentuk ikatan peptida. Struktur sekunder ditentukan oleh bentuk rantai asam amino : lurus, lipatan, atau gulungan yang mempengaruhi sifat dan kemungkinan jumlah protein yang dapat dibentuk. Struktur ini terjadi karena ikatan hydrogen antara atom O dari gugus karbonil ( C=O) dengan atom H dari gugus amino ( N-H ) dalam satu rantai peptida. Struktur tersier ditentukan oleh ikatan tambahan antara gugus R pada asam-asam amino yang memberi bentuk tiga dimensi sehingga membentuk struktur kompak dan padat suatu protein. Struktur kuartener adalah susunan kompleks yang terdiri dari dua rantai polipeptida atau lebih, yang setiap rantainya bersama dengan struktur primer, sekunder, tersier membentuk satu molekul protein yang besar dan aktif secara biologis.
Saya akan menjawab pertanyaan no 4 Reaksi nitrasi adalah reaksi kimia yang terjadi pada benzena dan asam nitrat dengan bantuan katalis asam sulfat. Senyawa yang dihasilkan adalah nitrobenzena dan air (produk samping). Elektrofil yang bekerja dalam reaksi nitrasi adalah ion nitronium (+NO2).
BalasHapusReaksi ini terjadi ya karena sesuai pengertiannya di mana asaam nitrat yang bereaksi dengan benzene dengan katalis asam sulfat maka terjadi reaksi nutrasi
baiklah saya akan mencoba menjawab permalsahan ke -2
BalasHapusReaksi sakaguci dilakukan dengan menggunakan pereaksi naftol dan natrium hipobromit. Pada dasarnya reaksi ini dapat memberi hasil positif apabila ada gugus guanidin. Jadi arginin atau protein yang mengandung arginin dapat menghasilkan warna merah. hal ini dikarenakan adanya keterkaitan gugus yang terdapat pada guanin sehingga menghasilkan hasil yang positif. sekian :)